jogjatime.com

Thursday
Mar 11th
Home The Actors The Actors Gunawan Muhammad dan Caping

Gunawan Muhammad dan Caping

E-mail Print PDF

Jogjatime.com- PENYAIR, jurnalis, dan esais Goenawan Mohamad (selanjutnya saya tulis dengan GM) lahir di Batang, Jawa Tengah, 29 Juli 1941. Menulis puisi untuk publik pada usia 20 tahun. Sebelumnya, di saat masih duduk di bangku SMA, pernah menerjemahkan puisi Emily Dickinson dan dimuat di Harian Abadi.

Sepanjang karirnya sebagai penyair, ia menulis banyak puisi, meskipun ada beberapa tahun yang sama sekali tidak menulis puisi, yakni 1974, 1975, dan 1999. tidak terjelaskan apa sebabnya, namun sebagaimana umumnya seorang sastrawan, ada masanya ketika gagasan tidak berbuah karya. Sementara itu, pada tahun 1980-an, ia disibukkan dengan kegiatan membidani kelahiran majalah Tempo, yang menyebabkan produktivitasnya dalam menulis puisi juga menurun.

Puisi-puisinya dibukukan  dalam  Pariksit (1971), Interlude (1973), Asmaradana (1992), Misalkan Kita di Sarajevo (1998), dan Sajak-sajak Lengkap 1961-2001 (2001) – dikumpulkan oleh Ayu Utami dan Sitok Srengenge; yang kemudian mendapat hadiah Khatulitiwa Literary Award 2002. Laksmi Pamuntjak kembali menerbit puisi-puisi GM dalam dua bahasa (Indonesia dan Inggris) dengan judul: Goenawan Mohamad, Selected Poems (2004). Artinya, GM masih berkarya selepas tahun 2001, bahkan yang dibukukan sampai titimangsa 2004.

Karirnya sebagai jurnalis tampak pada perjalanan hidup majalah Tempo. Selain turut melahirkannya, GM juga pernah menjadi Pemimpin Redaksi sepanjang dua periode. Periode pertama berlangsung sejak 1971 hingga 1993. Dan periode kedua hanya satu tahun, 1998-1999. Pada tahun 1994 majalah Tempo dibreidel oleh pemerintahan Soeharto, dan seluruh kegiatan jurnalistik GM bergerak ‘di bawah tanah’, di antaranya melalui Aliansi Jurnalis Independen (AJI). Pada masa itu, GM bersama teman-teman AJI dan sejumlah cendekiawan yang memperjuangkan kebebasan ekspresi, mendirikan organisasi bernama Institut Studi Arus Informasi (ISAI). Melalui organisasi ini, tampak GM gigih melawan kondisi represif yang dilakukan oleh Orde Baru. Ia tak berhenti menulis Catatan Pinggir – yang tentu tidak diterbitkan secara umum dan luas. Dalam sebuah obrolan, GM mengaku: “Saat itu, gerakan menulis saya didasari oleh kesombongan, perasaan ingin melawan.” Mungkin karena usia GM saat itu yang masih terhitung muda dan produktif.

Bermarkas di Jalan Utan Kayu no. 68H, sebuah kompleks ruko niaga, secara sembunyi-sembunyi, ISAI menerbitkan serangkaian media yang kontraorde-baru, salah satunya majalah Pantau. Banyak tergabung elemen aktivis di tempat itu, antara lain: pejuang prodemokrasi, seniman, dan cendekiawan, saling bekerja bahu-membahu. Perpaduan pemikiran dan kegiatan itu telah melahirkan Teater Utan Kayu, Radio 68H, Galeri Lontar, Kedai Tempo, dan Jaringan Islam Liberal. Keberlangsungan kegiatannya yang melibatkan banyak seniman dalam acara-acara berkala itu, kemudian dikenal dengan nama Komunitas Utan Kayu.

Sebagai esais, jejak tulisan GM bertebaran di pelbagai media dan acara (sebagai pembicara). Namun yang paling lekat pada sejarah kepengarangannya adalah Catatan Pinggir; tulisan khas yang menjadi ciri majalah Tempo sampai hari ini. Bahkan telah diterbitkan secara berturut-turut hingga buku ke-6 dan persiapan buku ke-7. Catatan Pinggir juga terbit dalam edisi bahasa Inggris, terjemahan Jennifer Lindsay, dengan tajuk Sidelines (1994) dan Conversations with Difference (2002).

Kumpulan esainya juga dihimpun dalam beberapa buku, antara lain: Potret Seorang Penyair Muda Sebagai Si Malin Kundang (1972). Seks, Sastra, dan Kita (1980), Kesusastraan dan Kekuasaan (1993), Setelah Revolusi Tak Ada Lagi (2001), Kata, Waktu (2001), Eksotopi (2002). Dapat dibayangkan, alangkah banyak tulisannya. Dapat dibayangkan pula, betapa pikirannya terus hidup, memandang dan mencerap segala yang terjadi di sekitar dirinya, dan menuangkannya, bahkan lebih tajam dari itu karena ada masa-masa ia melawan pemerintah dengan penanya itu.

Kini, setelah meletakkan tugasnya sebagai pemimpin redaksi majalah Tempo, ia menjadi seorang kreator yang lebih bebas secara kedinasan, namun tetap terikat deadline Catatan Pinggir majalah Tempo yang terbit sekali seminggu. Agaknya, tidak semata menulis secara tunggal saja ia bekerja; GM juga menciptakan komposisi pertunjukan bersama musisi Tony Prabowo dan Jarrad Powel dengan karya libretto untuk opera Kali (1996 sampai dengan 2003, dengan sejumlah revisi). Pementasan di Seattle (2000) dan New York, berjudul The Kings’s Witch – bersama Tony Prabowo. Bersama musisi eksperimentalis muda itu pula, puisinya yang berjudul Pastoral dimainkan dalam bentuk konser di Tokyo tahun 2006. Selain itu, GM juga menulis teks untuk drama-tari Kali-Yuga bersama koreografer Wayan Dibya dan penari Ketut Rina beserta gamelan Sekar Jaya di Berkeley, California. Karir pertunjukannya di dalam negeri antara lain: teks Wisanggeni (1995) untuk dalang Ki Sujiwo Tejo, dan Alap-alapan Surtikanti (2002) untuk dalang Ki Slamet Gundono, serta drama-tari Panji Sepuh bersama koreografi karya Sulistyo Tirtosudarmo. (Dalam puisi Persetubuhan Kunthi, tertulis dedikasi: untuk tarian Sulistyo Tirtokusumo – saya tak tahu apakah ini orang yang sama atau berbeda).

Ia berkarya dan terus berkarya, sebagai pertanda masih peduli dengan keadaan negeri ini, terutama mengenai pemikirannya yang kritis terhadap politik dan budaya. Sejak lahir hingga SMA memang tinggal di Jawa Tengah, namun pengembaraan bacaannya jauh melampaui negerinya. Tak heran jika Hamid Basyaib, salah seorang sahabatnya, menyebut bahwa Goenawan Mohamad adalah orang Barat yang lahir di Batang. Mengapa demikian? Karena intelektualitas diasah melalui pelbagai referensi pemikiran Barat antara lain Brecht, Derrida, Adorno, Habermas, Nietcszhe, Camus, Foucault, Eco, Benjamin, dan banyak nama lain.

Sebagai jurnalis yang acap bersentuhan dengan kepentingan politik, sejak muda GM sudah turut mencetuskan Manifes Kebudayaan, sebagai lawan Lekra di tahun 60-an, sejak ia mulai bergiat di Jakarta. Meskipun, ketika meletus G30S PKI,  ia justru sedang berada di  Belgia dalam rangka studi. Namun demikian, perannya di masa represif Orde Baru tampak menonjol saat era Reformasi. Dalam perbincangan sembari makan sahur di Jogja (bersama Saut Situmorang dan Katrin Bandel) baru-baru ini, ada bantahan dari Saut bahwa pengakuan Ayu Utami di majalah Der Spiegel edisi Jerman yang mengatakan gerakan reformasi berawal dari Utan Kayu itu, tidak benar. Saya tidak perlu berdebat di tempat lesehan itu. Apalagi setelah menelusuri ke masa lalu, ternyata memang ada perintisan Majelis Amanat Rakyat (MARA) yang memang dikerjakan di Komunitas Utan Kayu. Kita tahu, MARA adalah cikal bakal dari Partai Amanat Nasional. Meskipun GM tidak mau duduk dalam kepengurusan, melainkan hanya turut mebidani kelahiran partai yang mengemban amanat untuk meneruskan perjuangan reformasi itu, ada peran besarnya di sana. Selanjutnya yang gigih melanjutkan gerakannya setelah bersama-sama mahasiswa menurunkan Soeharto sebagai presiden Indonesia dengan masa jabatan 32 tahun, adalah Amin Rais.

Kasus lain yang mencuatkan nama GM di permukaan, adalah pertikaiannya dengan Tomy Winata – masalah pemberitaan majalah Tempo mengenai pasar Tanah Abang. Tuntutan 1 miliar dan kabar penyitaan rumahnya sebagai jaminan, membuat para sahabatnya turut murka dan prihatin (saya sempat berkomunikasi dengan Sitok Srengenge dan Nirwan Dewanto dalam menghimpun simpati). Akhirnya memang selesai dengan melegakan.

Sebagai aktivis, karir GM bukan tanpa cela. Upayanya dalam menegakkan demokrasi memang mengundang pro-kontra, terutama terhadap Islam militan, terkait dengan Jaringan Islam Liberal yang mencuatkan nama Ulil Abshar Abdalla. Sebenarnya di era sebelumnya, GM juga sempat mengangkat Nurcholis Madjid dengan pemikiran-pemikirannya yang moderat. Kini, secara tidak langsung, mungkin ada peran GM melalui Freedom Institute yang turut memberi sumbangsih pemikiran untuk pemberian hadiah Ahmad Bakrie kepada dua budayawan Indonesia: Rendra dan Arif Budiman – justru di saat kelompok usaha Bakrie sedang bermasalah dengan kasus luapan lumpur Lapindo Brantas. Apakah benar demikian? Wallahu alam.



(Kurnia Effendi, untuk diskusi Milis APresiasiSAStra, selain materi: Menikmati Puisi-puisi Goenawan Mohamad)

 

Comments (2)
  • The Fachia  - Actor yang legendaris
    Beliau memang aktor yang hebat dan inspiratif dengan pengalaman yg mumpuni.. :)
  • enja  - GM...
    @the fachia...yap betul....termasuk anda bukan...qqqq
Write comment
Your Contact Details:
Comment:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img]   
=)=D=(XD:dizzy:T_T:blush:^_^=_=-_-:pout::angry:
=Oo_O:snicker::eyebrow::sigh::sick::whisper::whistle::nuu::gah::flame::cool:
:shy::kawaii::notfunny::snooty::uhh:X_XXB:talkbiz::grr::onoes::psychotic::scared:
:evil::nomnom::zombie::want::drunk::love::meow::music:
Security
Please input the anti-spam code that you can read in the image.
Last Updated ( Monday, 18 January 2010 04:05 )  

ON THE SPOT

 

KEN STRINGFELLOW on TEATER GARASI

Bersama THE DiSCiPLiNES, Ken menjajaki tur Amerika Utara dan pada kesempatan ini, sebagai solo artist, juga melakukan tur di Asia. Dalam bentuk apapun kontribusi dia, karya-karya musik Ken Stringfellow dipenuhi dengan emosi yang kuat, dalam serta konten yang sarat dengan teknis dan passion. Rencananya, ken akan bertandang ke Jogja dalam rangka pemenuhan rangkaian tur tersebut. Penampilan yang rencananya akan diadakan di Teater Garasi, 14 Januari 2009, pukul 20:00 WIB tersebut melepas harga tiketnya sebesar Rp 20,000.(jtm/Teater Garasi/MailingList)

 

Jogjakarta banjir "Bus-Kodok"

dengan menjunjung tinggi kode etik dalam berkendara, pihak vw-indonesia.com menghimbau kepada seluruh anggota klub vw untuk berkendara yang baik dan sopan, sebagaimana telah menjadi motto cara berkendara VW, dan menghimbau agar para pecinta VW memperhatikan faktor kehati-hatian, kenyamanan dan kebersamaan selama dalam perjalanan. hot link:http://www.vw-indonesia.com

 

Tapa Bisu Suro dan mubeng benteng

Jogjatime.com- Ribuan warga Yogyakarta dan sekitarnya melakukan ritual "tapa bisu mubeng beteng" Keraton Ngayogyakarto Hadiningrat menyambut malam pergantian tahun baru Jawa 1 Sura 1943 Jumat dini hari 18 Desember 2009. Ritual mengelilingi tembok Kraton itu dilepas oleh GBPH Joyokusumo adik Sri Sultan Hamengkubuwono X tepat pada pukul 24.00 WIB. Prosesi tersebut dilakukan dengan jalan kaki tanpa aktifitas-aktifitas yang lain seperti merokok, makan, minum maupun berbicara. Dilansir dari kompas regioanal, Rombongan peserta ritual membentuk barisan sepanjang sekitar 500 meter, dan mereka memadati sepanjang jalan yang dilewati. "’Tapa bisu mubeng beteng’ itu untuk memeringati tahun baru Islam 1 Muharam atau 1 Suro bagi masyarakat Jawa. Tujuannya mengajak masyarakat untuk bersyukur kepada Tuhan, memohon keselamatan dan kesejahteraan," kata kerabat Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Gunokadiningrat. Ia mengatakan secara resmi pihak Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat tidak melakukan ritual tersebut. Namun, kegiatan itu dilakukan para abdi dalem keprajan dan punokawan yang mengabdi di keraton. Seluruh abdi dalem mengenakan busana adat Jawa peranakan warna biru tua tanpa membawa keris dan tidak beralaskan kaki dengan membawa bendera atau panji. "Semua bendera atau panji merupakan lambang lima kabupaten dan kota di Provinsi DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta), serta panji abdi dalem juga dibawa. Di depan barisan pembawa panji ada pembawa bendera negara RI yakni Merah Putih," katanya.Sementara itu, seorang peserta ritual Sunardi (53) warga Berbah, Kabupaten Sleman, DIY mengatakan hampir setiap tahun dirinya mengikuti ritual "tapa bisu mubeng beteng", karena batin terasa tenang saat menjalani ritual ini."Saya selalu berjalan tiga kali putaran. Saya tidak merasa lelah karena sudah biasa," katanya, yang mengikuti ritual itu bersama beberapa orang.(jtm/kompas) img:dok.kompas, herwahyu.blogspot.com

 

"UGM-MAndiri Jazz 2009", bingkisan untuk UGM

Jogjatime.com-UGM bersama Bank Mandiri telah mencatat rekor baru dalam sebuah perhelatan akbar bertajuk UGM –Mandiri Jazz 2009 yang berhasil membuat terjual habisnya tiket pada H-8 sebelum hari pertunjukan yang diselenggarakan pada 15 Desember 2009 di Gedung Grha Sabha Pramana, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.   Javajazz dengan formasi Indra Lesmana (grand piano, keyboard, Dewa Budjana(guitar), Gilang Ramadhan (drums), Donny Sulendra (guitar) dan Ananda Mates (bass) beserta beberapa tokoh jazz nasional seperti Syahrani, Bertha, Ello menggebrak jogjakarta dalam konser tersebut.   Konser yang dipandu oleh Farhan dan Sarah Sechan semalam ini, merupakan “hadiah” bagi peminat jazz jogjakarta dan sekitarnya pada umumnya dan untuk masyarakat Universitas Gadjah Mada pada khususnya yang pada tanggal 19 Desember nanti merayakan hari jadinya yang ke 60.  

 

“Korban” pertama Biennale Jogja X-2009: Mobil tangki air Pemkot

Jogjatime.com - Biennale Jogja X-2009 tinggal sesaat lagi. Aktifitas seni rupa sebagai rangkaian dari Biennale ini mulai menggeliat.  Contohnya adalah kegiatan beberapa seniman baik berkelompok maupun individu  melukis pada mobil tanki air.

Statistics

Content View Hits : 12205

Currency Converter

Convert   into