jogjatime.com

Thursday
Mar 11th
Home The Actors The Actors Yenny Wahid Bulan Madu Bersama Para Pelawak

Yenny Wahid Bulan Madu Bersama Para Pelawak

E-mail Print PDF

Jogjatime.com- Pasangan pengantin baru Zannuba Arifah Chafsoh yang lebih dikenal sebagai Yenny Wahid dan suaminya Dhohir Farisi punya cara unik mengisi bulan madu.

Di tengah masa bulan madunya, pasangan politisi muda itu terlihat mengobrol santai bersama belasan pelawak Yogyakarta di halaman samping Taman Budaya Yogyakarta, Minggu (6/12). "Keluarga kami sangat menghargai lawak dan komedi. Bahkan saat resepsi pernikahan pun, hiburannya dipanggilkan lawak," kata putri Abdurrahman Wahid yang dikenal gemar melucu itu.

 

Bukan lawakan yang berlangsung sore itu, namun perbincangan seputar dunia seni komedi dan permasalahannya. Sarasehan menjadi lebih akrab saat Yenny dan Dhohir bersahutan menceritakan kejadian-kejadian lucu seputar proses pernikahan mereka serta banyolan khas Gus Dur yang membuat yang hadir tertawa.

Pertemuan itu sekaligus reuni Dhohir bersama teman-temannya saat berkuliah di Universitas Gadjah Mada dulu. Hadir pula dalam sarasehan yang diselenggarakan Jogja Jokes Network (Jojon) Center itu aktor dan komedian Yogyakarta Butet Kertaredjasa, Dibyo Primus dari Negeri Impian, dan para pelawak muda Yogyakarta yang tergabung dalam Plat AB.

Menurut Yenny, lawak menunjukkan satu tingkat kecerdasan tertentu. Karena untuk mencetuskan satu humor, seseorang membutuhkan kepandaian serta kreatifitas. Lawak juga menjadi media yang tepat untuk mengutarakan kritik pada penguasa tanpa menyinggung.

Selain itu, sarasehan dengan suguhan teh hangat dan gorengan itu membahas berbagai permasalahan di dunia lawak. Salah satu permasalahan adalah mutu lawakan yang semakin rendah. Seni komedi serta pelakunya juga masih kurang dihargai dari jenis-jenis seni lainnya. "Padahal, butuh keseriusan total dan etos kerja tinggi agar bisa selamat sebagai pelawak," kata Butet.

Salah satu permasalahan adalah tidak adanya sistem pendidikan formal dan minimnya etos kerja pelawak zaman ini. Untuk itu, para pelawak meminta Yenny untuk mendirikan lembaga pendidikan resmi, sejenis akademi, untuk seni komedi.

"Saya yakin formulasi kurikulumnya bisa dibuat," kata Direktur Jojon Center Sholahuddin. Dhohir yang juga anggota DPR itu mengusulkan agar para pelawak beraudiensi dengan Komisi X DPR untuk membicarakan permasalahan mereka. "Di komisi X kan banyak pelawak juga," katanya.

Sarasehan itu berakhir dengan obrolan ringan. Menjelang malam, pasangan sejoli yang menikah sekitar dua pekan lalu itu kembali ke hotelnya.(jtm/kompas, img:jogjanews.com)

 

Comments (0)
Write comment
Your Contact Details:
Comment:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img]   
=)=D=(XD:dizzy:T_T:blush:^_^=_=-_-:pout::angry:
=Oo_O:snicker::eyebrow::sigh::sick::whisper::whistle::nuu::gah::flame::cool:
:shy::kawaii::notfunny::snooty::uhh:X_XXB:talkbiz::grr::onoes::psychotic::scared:
:evil::nomnom::zombie::want::drunk::love::meow::music:
Security
Please input the anti-spam code that you can read in the image.
Last Updated ( Friday, 11 December 2009 16:01 )  

ON THE SPOT

 

KEN STRINGFELLOW on TEATER GARASI

Bersama THE DiSCiPLiNES, Ken menjajaki tur Amerika Utara dan pada kesempatan ini, sebagai solo artist, juga melakukan tur di Asia. Dalam bentuk apapun kontribusi dia, karya-karya musik Ken Stringfellow dipenuhi dengan emosi yang kuat, dalam serta konten yang sarat dengan teknis dan passion. Rencananya, ken akan bertandang ke Jogja dalam rangka pemenuhan rangkaian tur tersebut. Penampilan yang rencananya akan diadakan di Teater Garasi, 14 Januari 2009, pukul 20:00 WIB tersebut melepas harga tiketnya sebesar Rp 20,000.(jtm/Teater Garasi/MailingList)

 

Jogjakarta banjir "Bus-Kodok"

dengan menjunjung tinggi kode etik dalam berkendara, pihak vw-indonesia.com menghimbau kepada seluruh anggota klub vw untuk berkendara yang baik dan sopan, sebagaimana telah menjadi motto cara berkendara VW, dan menghimbau agar para pecinta VW memperhatikan faktor kehati-hatian, kenyamanan dan kebersamaan selama dalam perjalanan. hot link:http://www.vw-indonesia.com

 

Tapa Bisu Suro dan mubeng benteng

Jogjatime.com- Ribuan warga Yogyakarta dan sekitarnya melakukan ritual "tapa bisu mubeng beteng" Keraton Ngayogyakarto Hadiningrat menyambut malam pergantian tahun baru Jawa 1 Sura 1943 Jumat dini hari 18 Desember 2009. Ritual mengelilingi tembok Kraton itu dilepas oleh GBPH Joyokusumo adik Sri Sultan Hamengkubuwono X tepat pada pukul 24.00 WIB. Prosesi tersebut dilakukan dengan jalan kaki tanpa aktifitas-aktifitas yang lain seperti merokok, makan, minum maupun berbicara. Dilansir dari kompas regioanal, Rombongan peserta ritual membentuk barisan sepanjang sekitar 500 meter, dan mereka memadati sepanjang jalan yang dilewati. "’Tapa bisu mubeng beteng’ itu untuk memeringati tahun baru Islam 1 Muharam atau 1 Suro bagi masyarakat Jawa. Tujuannya mengajak masyarakat untuk bersyukur kepada Tuhan, memohon keselamatan dan kesejahteraan," kata kerabat Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Gunokadiningrat. Ia mengatakan secara resmi pihak Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat tidak melakukan ritual tersebut. Namun, kegiatan itu dilakukan para abdi dalem keprajan dan punokawan yang mengabdi di keraton. Seluruh abdi dalem mengenakan busana adat Jawa peranakan warna biru tua tanpa membawa keris dan tidak beralaskan kaki dengan membawa bendera atau panji. "Semua bendera atau panji merupakan lambang lima kabupaten dan kota di Provinsi DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta), serta panji abdi dalem juga dibawa. Di depan barisan pembawa panji ada pembawa bendera negara RI yakni Merah Putih," katanya.Sementara itu, seorang peserta ritual Sunardi (53) warga Berbah, Kabupaten Sleman, DIY mengatakan hampir setiap tahun dirinya mengikuti ritual "tapa bisu mubeng beteng", karena batin terasa tenang saat menjalani ritual ini."Saya selalu berjalan tiga kali putaran. Saya tidak merasa lelah karena sudah biasa," katanya, yang mengikuti ritual itu bersama beberapa orang.(jtm/kompas) img:dok.kompas, herwahyu.blogspot.com

 

"UGM-MAndiri Jazz 2009", bingkisan untuk UGM

Jogjatime.com-UGM bersama Bank Mandiri telah mencatat rekor baru dalam sebuah perhelatan akbar bertajuk UGM –Mandiri Jazz 2009 yang berhasil membuat terjual habisnya tiket pada H-8 sebelum hari pertunjukan yang diselenggarakan pada 15 Desember 2009 di Gedung Grha Sabha Pramana, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.   Javajazz dengan formasi Indra Lesmana (grand piano, keyboard, Dewa Budjana(guitar), Gilang Ramadhan (drums), Donny Sulendra (guitar) dan Ananda Mates (bass) beserta beberapa tokoh jazz nasional seperti Syahrani, Bertha, Ello menggebrak jogjakarta dalam konser tersebut.   Konser yang dipandu oleh Farhan dan Sarah Sechan semalam ini, merupakan “hadiah” bagi peminat jazz jogjakarta dan sekitarnya pada umumnya dan untuk masyarakat Universitas Gadjah Mada pada khususnya yang pada tanggal 19 Desember nanti merayakan hari jadinya yang ke 60.  

 

“Korban” pertama Biennale Jogja X-2009: Mobil tangki air Pemkot

Jogjatime.com - Biennale Jogja X-2009 tinggal sesaat lagi. Aktifitas seni rupa sebagai rangkaian dari Biennale ini mulai menggeliat.  Contohnya adalah kegiatan beberapa seniman baik berkelompok maupun individu  melukis pada mobil tanki air.

Statistics

Content View Hits : 12208

Currency Converter

Convert   into