jogjatime.com

Thursday
Mar 11th
Home The Actors The Actors

The Actors

Koin Cinta Bilqis Tembus Rp 1,8 M

Koin Cinta Bilqis Tembus Rp 1,8 M

Jogjatime.com- Empati masyarakat terhadap Bilqis Anindya Passa, bayi usia 17 bulan pengidap kelainan saluran empedu tidak terbentuk atau tidak berkembang secara normal (Atresia Bilier), begitu tinggi. Gerakan Koin Cinta bagi Bilqis telah terkumpul Rp 1,85 miliar.

"Ada Rp 1,1 miliar via transfer melalui rekening Bilqis dan pengumpulan koin Rp 7,5 juta," ujar Bije, paman Bilqis ketika dikonfirmasi, Rabu (3/2/2020).

Menurut Bije, uang dan koin tersebut dihitung hingga Selasa (2/2/2010) malam. Keluarga, lanjut Bije, berterima kasih kepada masyarakat Indonesia yang telah membantu Bilqis.

Bije menuturkan, dengan uang Rp 1,1 miliar dan koin Rp 7,5 juta itu, Bilqis akan segera dioperasi transplantasi hati. Operasi akan dilakukan di RSUP Kariadi Semarang. Bilqis berangkat ke Semarang hari ini. "Pesawatnya Mandala berangkat pukul 12.15 WIB dengan biaya sendiri. Tidak ada orang Kemkes yang menemani," kata Bije.

Bije menambahkan, Bilqis hanya diantar ayahnya, Donny Ardianta Passa, ibunya, Dewi Farida (37) dan kakeknya.

Bilqis yang lahir pada 20 Agustus 2008 ini baru diketahui mengidap Atresia Bilier saat usianya menginjak 2 minggu. Sekujur tubuhnya menghitam dan kekuningan. Perutnya buncit dan gatal di seluruh tubuhnya. Kotorannya pun berwarna kuning pucat.

Gerakan Koin Cinta untuk Bilqis dibentuk pada 25 Desember 2008 lalu. Sekitar 10 posko bantuan untuk Bilqis sudah terbentuk di seluruh Indonesia untuk memudahkan bantuan.

Last Updated ( Friday, 05 February 2010 00:54 )

 

Gunawan Muhammad dan Caping

Gunawan Muhammad dan Caping

Karirnya sebagai jurnalis tampak pada perjalanan hidup majalah Tempo. Selain turut melahirkannya, GM juga pernah menjadi Pemimpin Redaksi sepanjang dua periode. Periode pertama berlangsung sejak 1971 hingga 1993. Dan periode kedua hanya satu tahun, 1998-1999. Pada tahun 1994 majalah Tempo dibreidel oleh pemerintahan Soeharto, dan seluruh kegiatan jurnalistik GM bergerak ‘di bawah tanah’, di antaranya melalui Aliansi Jurnalis Independen (AJI). Pada masa itu, GM bersama teman-teman AJI dan sejumlah cendekiawan yang memperjuangkan kebebasan ekspresi, mendirikan organisasi bernama Institut Studi Arus Informasi (ISAI). Melalui organisasi ini, tampak GM gigih melawan kondisi represif yang dilakukan oleh Orde Baru. Ia tak berhenti menulis Catatan Pinggir – yang tentu tidak diterbitkan secara umum dan luas. Dalam sebuah obrolan, GM mengaku: “Saat itu, gerakan menulis saya didasari oleh kesombongan, perasaan ingin melawan.” Mungkin karena usia GM saat itu yang masih terhitung muda dan produktif.

Bermarkas di Jalan Utan Kayu no. 68H, sebuah kompleks ruko niaga, secara sembunyi-sembunyi, ISAI menerbitkan serangkaian media yang kontraorde-baru, salah satunya majalah Pantau. Banyak tergabung elemen aktivis di tempat itu, antara lain: pejuang prodemokrasi, seniman, dan cendekiawan, saling bekerja bahu-membahu. Perpaduan pemikiran dan kegiatan itu telah melahirkan Teater Utan Kayu, Radio 68H, Galeri Lontar, Kedai Tempo, dan Jaringan Islam Liberal. Keberlangsungan kegiatannya yang melibatkan banyak seniman dalam acara-acara berkala itu, kemudian dikenal dengan nama Komunitas Utan Kayu.

Sebagai esais, jejak tulisan GM bertebaran di pelbagai media dan acara (sebagai pembicara). Namun yang paling lekat pada sejarah kepengarangannya adalah Catatan Pinggir; tulisan khas yang menjadi ciri majalah Tempo sampai hari ini. Bahkan telah diterbitkan secara berturut-turut hingga buku ke-6 dan persiapan buku ke-7. Catatan Pinggir juga terbit dalam edisi bahasa Inggris, terjemahan Jennifer Lindsay, dengan tajuk Sidelines (1994) dan Conversations with Difference (2002).

Kumpulan esainya juga dihimpun dalam beberapa buku, antara lain: Potret Seorang Penyair Muda Sebagai Si Malin Kundang (1972). Seks, Sastra, dan Kita (1980), Kesusastraan dan Kekuasaan (1993), Setelah Revolusi Tak Ada Lagi (2001), Kata, Waktu (2001), Eksotopi (2002). Dapat dibayangkan, alangkah banyak tulisannya. Dapat dibayangkan pula, betapa pikirannya terus hidup, memandang dan mencerap segala yang terjadi di sekitar dirinya, dan menuangkannya, bahkan lebih tajam dari itu karena ada masa-masa ia melawan pemerintah dengan penanya itu.

Kini, setelah meletakkan tugasnya sebagai pemimpin redaksi majalah Tempo, ia menjadi seorang kreator yang lebih bebas secara kedinasan, namun tetap terikat deadline Catatan Pinggir majalah Tempo yang terbit sekali seminggu. Agaknya, tidak semata menulis secara tunggal saja ia bekerja; GM juga menciptakan komposisi pertunjukan bersama musisi Tony Prabowo dan Jarrad Powel dengan karya libretto untuk opera Kali (1996 sampai dengan 2003, dengan sejumlah revisi). Pementasan di Seattle (2000) dan New York, berjudul The Kings’s Witch – bersama Tony Prabowo. Bersama musisi eksperimentalis muda itu pula, puisinya yang berjudul Pastoral dimainkan dalam bentuk konser di Tokyo tahun 2006. Selain itu, GM juga menulis teks untuk drama-tari Kali-Yuga bersama koreografer Wayan Dibya dan penari Ketut Rina beserta gamelan Sekar Jaya di Berkeley, California. Karir pertunjukannya di dalam negeri antara lain: teks Wisanggeni (1995) untuk dalang Ki Sujiwo Tejo, dan Alap-alapan Surtikanti (2002) untuk dalang Ki Slamet Gundono, serta drama-tari Panji Sepuh bersama koreografi karya Sulistyo Tirtosudarmo. (Dalam puisi Persetubuhan Kunthi, tertulis dedikasi: untuk tarian Sulistyo Tirtokusumo – saya tak tahu apakah ini orang yang sama atau berbeda).

Ia berkarya dan terus berkarya, sebagai pertanda masih peduli dengan keadaan negeri ini, terutama mengenai pemikirannya yang kritis terhadap politik dan budaya. Sejak lahir hingga SMA memang tinggal di Jawa Tengah, namun pengembaraan bacaannya jauh melampaui negerinya. Tak heran jika Hamid Basyaib, salah seorang sahabatnya, menyebut bahwa Goenawan Mohamad adalah orang Barat yang lahir di Batang. Mengapa demikian? Karena intelektualitas diasah melalui pelbagai referensi pemikiran Barat antara lain Brecht, Derrida, Adorno, Habermas, Nietcszhe, Camus, Foucault, Eco, Benjamin, dan banyak nama lain.

Sebagai jurnalis yang acap bersentuhan dengan kepentingan politik, sejak muda GM sudah turut mencetuskan Manifes Kebudayaan, sebagai lawan Lekra di tahun 60-an, sejak ia mulai bergiat di Jakarta. Meskipun, ketika meletus G30S PKI,  ia justru sedang berada di  Belgia dalam rangka studi. Namun demikian, perannya di masa represif Orde Baru tampak menonjol saat era Reformasi. Dalam perbincangan sembari makan sahur di Jogja (bersama Saut Situmorang dan Katrin Bandel) baru-baru ini, ada bantahan dari Saut bahwa pengakuan Ayu Utami di majalah Der Spiegel edisi Jerman yang mengatakan gerakan reformasi berawal dari Utan Kayu itu, tidak benar. Saya tidak perlu berdebat di tempat lesehan itu. Apalagi setelah menelusuri ke masa lalu, ternyata memang ada perintisan Majelis Amanat Rakyat (MARA) yang memang dikerjakan di Komunitas Utan Kayu. Kita tahu, MARA adalah cikal bakal dari Partai Amanat Nasional. Meskipun GM tidak mau duduk dalam kepengurusan, melainkan hanya turut mebidani kelahiran partai yang mengemban amanat untuk meneruskan perjuangan reformasi itu, ada peran besarnya di sana. Selanjutnya yang gigih melanjutkan gerakannya setelah bersama-sama mahasiswa menurunkan Soeharto sebagai presiden Indonesia dengan masa jabatan 32 tahun, adalah Amin Rais.

Kasus lain yang mencuatkan nama GM di permukaan, adalah pertikaiannya dengan Tomy Winata – masalah pemberitaan majalah Tempo mengenai pasar Tanah Abang. Tuntutan 1 miliar dan kabar penyitaan rumahnya sebagai jaminan, membuat para sahabatnya turut murka dan prihatin (saya sempat berkomunikasi dengan Sitok Srengenge dan Nirwan Dewanto dalam menghimpun simpati). Akhirnya memang selesai dengan melegakan.

Sebagai aktivis, karir GM bukan tanpa cela. Upayanya dalam menegakkan demokrasi memang mengundang pro-kontra, terutama terhadap Islam militan, terkait dengan Jaringan Islam Liberal yang mencuatkan nama Ulil Abshar Abdalla. Sebenarnya di era sebelumnya, GM juga sempat mengangkat Nurcholis Madjid dengan pemikiran-pemikirannya yang moderat. Kini, secara tidak langsung, mungkin ada peran GM melalui Freedom Institute yang turut memberi sumbangsih pemikiran untuk pemberian hadiah Ahmad Bakrie kepada dua budayawan Indonesia: Rendra dan Arif Budiman – justru di saat kelompok usaha Bakrie sedang bermasalah dengan kasus luapan lumpur Lapindo Brantas. Apakah benar demikian? Wallahu alam.



(Kurnia Effendi, untuk diskusi Milis APresiasiSAStra, selain materi: Menikmati Puisi-puisi Goenawan Mohamad)

 

Last Updated ( Monday, 18 January 2010 04:05 )

Butet Kartaredjasa: Seni Lebih Menjadi Berarti Bila Mendapat Respons

Butet Kartaredjasa: Seni Lebih Menjadi Berarti Bila Mendapat Respons

Jogjatime.com-Butet Kartaredjasa, aktor serba bisa yang selalu tampil penuh kritik bahkan sempat menantang para pengamat dengan lakon Matinya Tukang Kritik, dan berbagai lakon lainnya, sejak bulan Juli lalu terlihat aktif menyatukan irama pikiran dengan sekolmpok seniman Yogyakarta.Rupanya Si Raja Monolog kelahiran 21 November 1961 ini, mendapat mandat penting dari perupa Yogya untuk menjadi Direktur Biennale Jogja X.

Mengaku agak sedikit kualahan dengan tingkah-polah para seniman, dan sistem manajemen, Butet yang mengaku dibesarkan oleh pangung teater itu akhirnya memberanikan diri tampil beda, dengan misi yang berbeda pula.

 

Putra maestro tari almarhum Bagong Kussudiardja ini pada awalnya merasa terpojok oleh desakan-desakan para seniman. Namun dalam perjalanannya, menjadi Direktur Biennale Jogja X adalah sebuah pengabdian yang membuatnya lebih hidup.

Biennale, sebuah perhelatan seni rupa dua tahunan itupun digarap berbeda. Butet ternyata patuh kepada kehendak para seniman ‘muda’ untuk membongkar bingkai-bingkai eksklusif dalam berkesenian.

Apa jadinya? Kepada SP, aktor yang mengorbit lewat tipuan suara mantan Presiden Soeharto ini kemudian memaparkan bahwa sesuai temanya Jogja Jamming, maka perhelatan dua tahunan itu harus indah seperti simfoni , ber-jam session seperti musik jazz, dan melebur bersama khalayak umum.

Apa istimewanya Biennale Jogja kali ini?
Jika sebelumnya perayaan ini dimaknai sebagai puncak prestasi selama dua tahun seorang perupa, maka saat ini kita paksakan agar para perupa ini membuka pigura mereka. Toh, respons yang kami dapatkan adalah positif. Terbukti ketika ide akan adanya Publik on the Move atau pemaparan karya seni di muka publik ditawarkan, 60 persen peserta Biennale justru terpikat. Ini artinya, sudah muncul semacam gerakan berkesenian baru di hati perupa Yogya.

Biennale Jogja memang telah menjadi sebuah tradisi seni rupa yang memungkinkan masyarakat mengapresiasi perkembangan estetis, dan pencapaian artistik para pelaku seni. Namun untuk itu, perlu juga adanya komunikasi timbal balik, bagaimana, dan apa saja seni itu, dan apa saja folemik di tengah masyarakat. Toh seni menjadi lebih berarti bilamana mendapat respons secara utuh.

Maka, Biennale Jogja X-2009 ini harus ditempatkan sebagai pertemuan, membongkar, dan membaca kreatif seni, oleh masyarakat Yogyakarta.

Kemudian, yang membedakan dengan biennale sebelumnya adalah partisipasi publik. Contohnya, satu aspek dalam biennale Publik on the Move yang dimotori oleh Samuel Indratma (tokoh mural Yogya, Red) memperkuat keberadaan biennale kali ini, karena biennale bersandar pada kekuatan publik, dan ini mendapat sokongan penuh dari para pemilik kebijakan publik, walikota, gubernur, dan bupati. Partisipasi publik yang luar biasa, bahkan yang bukan berpredikat sebagai seniman, ikut rame-rame ini bagi saya jauh lebih bernilai daripada karya-karya seniman yang masuk di ruang in door.

Ini satu kepedulian masyarakat terhadap hajatan seni. Karena biasanya, publik, dan seni terpisah.

Ini akibat kehadiran, dan buah pikiran dari Samuel yang akrab dengan seni publik, dan Ong Hari Wahyu (seniman grafis-Red) yang selama ini selalu menjadi motor komunitas seni kampung. Output yang luar biasa. Jadi, seni tidak  terkurung dalam lingkupnya sendiri tetapi ajur-ajer dalam masyarakat.

 

Public on the Move?
Memang selama sepuluh kali gelaran, baru kali ini ada sebuah perhelatan di ruang-ruang publik. Khalayak dapat secara leluasa mengapresiasi tidak hanya karya senirupa, tapi juga arsip, dan dokumen visual milik para perupa di studio mereka masing-masing. Kami ingin masyarakat Yogya juga terlibat dalam proses. Kalau selama ini ada kesan bahwa, seniman itu adalah kelompok masyarakat yang ‘aneh’, maka sudah saatnya kesan itu hilang. Masyarakat bisa menyaksikan praktik kreatif perupa.

Dengan begitu, partisipasi para perupa, komunitas seni rupa, dan masyarakat di ruang publik itu akan menjadi sebuah jembatan kesempatan untuk menciptakan gerakan mengarsipkan seni. 

Tantangan dalam mengorganisir seniman?
Secara manajerial, bienalle kali ini relatif aman, dalam arti organisasinya baik, tim kerjanya solid, dan dari aspek pembiayaan berhasil di-cover oleh sponsor. Tetapi yang sangat memprihatinkan adalah, sponsor itu bukan berasal dari stakeholder seni rupa. Masyarakat seni rupa atau pihak-pihak yang diuntungkan dari  pencapaian-pencapaian aktivitas seni rupa, dalam hal ini adalah balai  lelang, galeri seni, kolektor, adalah pihak yang diuntungkan, tapi faktanya, suporting-nya sangat minim. Pada akhirnya toh,  mereka yang diuntungkan dari seni rupa ini, yang akhirnya menjadi penumpang gelap dari gerbong majunya dunia seni rupa. Kalau biennale-nya bagus, karya seni rupa yang dihasilkan juga bagus, yang diuntungkan itu, ya mereka juga. Tetapi ini saya sangat  disayangkan. Saya mencoba mengerti, barangkali mereka sedang mengalami  kesulitan likuiditas ekonomi mungkin, tetapi hendaknya ada suatu kesadaran kolektif, dan jangan hanya jadi penumpang gelap. Inilah kritik saya terhadap mereka.

Indikasi Keberhasilan?
Dari respons masyarakat, indikasinya lewat liputan pers, review, tulisan para kritikus dan kunjungan. Inilah indikatornya. Saya sangat senang, di sini para seniman bekerja maksimal, dan orientasinya bukan pada kuantitas tetapi pada pertaruhan kualitas. Ketika teman-teman seniman masih bekerja pada koridor kualitas itu, saya anggap biennale berhasil. Sebab mereka tidak kejar setoran. Biennale sendiri juga tidak mentargetkan banyknya jumlah peserta, bukan itu, biennale bukan okeh-okehan (banyak, Red). Tapi dari kualitas, pikiran-pikiran yang disodorkan oleh para seniman itu, juga pencapaian teknik dan ide-ide gila.

Banyak kalangan seniman bahkan politikus hingga kaum cendekia menganggap Yogya sebagai kawah Candradimuka bagaimana mamaknainya?
Yogya boleh jadi satu unsur terpenting dalam sejarah pergerakan bangsa Indonesia, bahkan sampai saat ini, segala peristiwa di Yogya, bisa dijadikan barometer politik, sosial bahkan ekonomi. Begitu juga dengan
seni, baik dari seni kontemporer hingga seni tradisi. Posisi Yogya sebagai Ibu Kota Seni Rupa boleh jadi bahasa yang bombastis. Tetapi semua itu pasti ada awalnya. Yang menarik adalah, Yogya bagian simpul penting untuk perkembangan seni rupa di Indonesia, selain Bali dan Bandung. Nah, sejumlah simpul penting ini berlomba untuk menjadi magnet, inilah ujian dari setiap kota itu, kalau nanti Yogya itu berhasil meyakinkan banyak orang, bahwa ini adalah suatu sumber kreativitas, memfasilitasi dengan baik suatu geliat seni rupa, praktis orang akan datang ke Yogya. Karakteristik kota ini berbeda dengan kota lain. Keterbukaan. Di sini meski ada faksi-faksi antar kelompok, tetapi kalau ada hajatan bersama, tetap bisa cair. Segala ideologi politik berkesenian, segala mahzab, bisa bersekutu.

Dalam kehidupan bermasyarakat, seniman Yogya tak ubahnya seperti anggota masyarakat pada umumnya. Terlibat interaktif bahkan tak berbeda dengan masyarakat non seniman. Inilah yang membedakan. Dari konteks inilah yang barangkali membedakan karena proses interaksi, maka ide-ide gila itu muncul. Gesekan-gesekan kultural seperti inilah yang membentuk. Ketika seniman dari daerah lain selalu mempertimbangkan aspek pasar, di Yogya tidak semua seniman berpikir demikian, meski tetap saja laku. Tapi motifnya bukan untuk memperdagangkan suatu barang, namun menciptakan suatu karya.

Ini semuanya karena kultur dan sudah berlangsung sejak dulu kala. Sempat memang terjadi ketegangan antar seniman daerah, misalnya, Bali yang dekat dengan pariwisata, maka aspeknya adalah wisata, Bandung yang amat erat dengan akademis, maka karyanya menjadi penuh pertimbangan. Yogya, karena agak ‘goblok sedikit’ penguasaan akademiknya kalah dengan Bandung, tapi relasi sosialnya kuat, sehingga kegilaan ide menjadi lebih liar.

Kembali pada persoalan pendanaan, berapa kebutuhan total?
Terus-terang, saya berusaha menjual diri untuk bisa membiayai hajatan ini. Jujur, dana dari Pemerintah Provinsi DIY Rp 85 juta sudah dipotong pajak, sedang kebutuhan total, di atas Rp 1 miliar. Karena itulah muncul keinginan mempercepat lahirnya Lembaga Biennale Jogja. Mungkin ini merupakan salah satu kabar menggembirakan yang mewarnai perhelatan Biennale Jogja X-2009 kali ini.

Situasi pahit yang dihadapi panitia adalah keengganan sejumlah pihak mensponsori kegiatan ini, jika Biennale Jogja X-2009 sekadar dikelola sebuah kepanitiaan. Bagi mereka, apa artinya memberikan sokongan jika sumbangan itu tak memiliki nilai keabadian? Mereka cemas seumpama menggelontorkan sumbangan, apakah ada jaminan sumbangan itu, akan memiliki keberlanjutan yang bermanfaat bagi dunia seni rupa? Jika ditangani sekadar kepanitiaan, bukankah itu hanya untuk perayaan sesaat, sekadar hura-hura berusia pendek? Memalukan? Mengemis,menadahkan tangan sambil jualan iba.

Realisasinya?
Menggalang Dana Abadi. Biennale Jogja di masa mendatang memang harus menjadi lembaga mandiri. Sebuah lembaga yang selain berkewajiban meneruskan penyelenggaraan Biennale Jogja bersama Taman Budaya Yogyakarta (TBY) dua tahun sekali, juga ber-tugas menggalang dana abadi, dan membangun infrastruktur seni rupa Yogyakarta, bahkan Indonesia. Hanya dengan begitu, Biennale Jogja berkemungkinan merelasikan eksistensinya menjadi bagian dari biennale-biennale lainnya di tingkat internasional, dan tak akan gedabyakan (kalang kabut, Red) lagi sebagai pengemis, cari dana saat perhelatan tiba.

Dan ketika impian ini disampaikan kepada Sri Sultan Hamengkubuwono X, Gubernur DIY, justru terdengar tantangan balik. Persetujuan dan tantangan Gubernur itu melegakan hati. Melalui lembaga itu, masyarakat seni rupa memperoleh hak-nya lantaran kelak Lembaga Biennale Jogja bakal didanai APBD.

Inilah pertanda hidupnya reformasi dan usaha demokratisasi. Ide-ide masyarakat yang notabene pembayar pajak, direspon positif dan difasilitasi. Adapun tantangan konsistensi itu, mau tak mau mengharuskan para pegiat, dan penggagas pelembagaan Biennale Jogja, bekerja keras menerjemahkan impian menjadi program-program nyata yang membumi. Bukan program awang-awang yang bersemayam di alam impian.

SK Gubernur segera akan diwujudkan April 2010 mendatang. Efek dominonya akan luar biasa. Maka muncul para ahli pigura yang bagus, akomodasi, rumah tangga Provinsi DIY tentunya juga akan merasakan dampaknya. Sebuah survei sudah membuktikan bahwa pasar seni rupa di Asia Tenggara yang menghadirkan karya dari Indonesia itu, mayoritas karya orang Yogya, dan pemecah rekor karya termahal juga dari Yogya, yakni perupa muda Masriadi yang laku Rp 9 miliar untuk satu lukisan. Jangan hanya satu Masriadi. Dengan infrastruktur yang baik, akan lahir seniman handal, dan mampu berkompetisi dalam dunia internasional. Bahkan kalau bisa mendatangkan seniman besar dunia datang ke sini. Ini akan dahsyat.

(Pewawancara:  Fuska Sani Evani)

Last Updated ( Monday, 18 January 2010 03:20 )

Yenny Wahid Bulan Madu Bersama Para Pelawak

Yenny Wahid Bulan Madu Bersama Para Pelawak

Jogjatime.com- Pasangan pengantin baru Zannuba Arifah Chafsoh yang lebih dikenal sebagai Yenny Wahid dan suaminya Dhohir Farisi punya cara unik mengisi bulan madu.

Di tengah masa bulan madunya, pasangan politisi muda itu terlihat mengobrol santai bersama belasan pelawak Yogyakarta di halaman samping Taman Budaya Yogyakarta, Minggu (6/12). "Keluarga kami sangat menghargai lawak dan komedi. Bahkan saat resepsi pernikahan pun, hiburannya dipanggilkan lawak," kata putri Abdurrahman Wahid yang dikenal gemar melucu itu.

Last Updated ( Friday, 11 December 2009 16:01 )

Read more...

"Rendra Festival" Tribute to The Birds Peacock

Jogjatime.com-It was more than three months W.S Rendra died, but the figure of the poet, playwright, poet, thinker, and revolutionary culture is still alive in the hearts of the majority of Indonesian people, especially the friends, relatives, lovers of art, as well as lovers of his works.

Last Updated ( Thursday, 10 December 2009 10:10 )

Read more...
More Articles...
  • «
  •  Start 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  Next 
  •  End 
  • »
Page 1 of 2

ON THE SPOT

 

KEN STRINGFELLOW on TEATER GARASI

Bersama THE DiSCiPLiNES, Ken menjajaki tur Amerika Utara dan pada kesempatan ini, sebagai solo artist, juga melakukan tur di Asia. Dalam bentuk apapun kontribusi dia, karya-karya musik Ken Stringfellow dipenuhi dengan emosi yang kuat, dalam serta konten yang sarat dengan teknis dan passion. Rencananya, ken akan bertandang ke Jogja dalam rangka pemenuhan rangkaian tur tersebut. Penampilan yang rencananya akan diadakan di Teater Garasi, 14 Januari 2009, pukul 20:00 WIB tersebut melepas harga tiketnya sebesar Rp 20,000.(jtm/Teater Garasi/MailingList)

 

Jogjakarta banjir "Bus-Kodok"

dengan menjunjung tinggi kode etik dalam berkendara, pihak vw-indonesia.com menghimbau kepada seluruh anggota klub vw untuk berkendara yang baik dan sopan, sebagaimana telah menjadi motto cara berkendara VW, dan menghimbau agar para pecinta VW memperhatikan faktor kehati-hatian, kenyamanan dan kebersamaan selama dalam perjalanan. hot link:http://www.vw-indonesia.com

 

Tapa Bisu Suro dan mubeng benteng

Jogjatime.com- Ribuan warga Yogyakarta dan sekitarnya melakukan ritual "tapa bisu mubeng beteng" Keraton Ngayogyakarto Hadiningrat menyambut malam pergantian tahun baru Jawa 1 Sura 1943 Jumat dini hari 18 Desember 2009. Ritual mengelilingi tembok Kraton itu dilepas oleh GBPH Joyokusumo adik Sri Sultan Hamengkubuwono X tepat pada pukul 24.00 WIB. Prosesi tersebut dilakukan dengan jalan kaki tanpa aktifitas-aktifitas yang lain seperti merokok, makan, minum maupun berbicara. Dilansir dari kompas regioanal, Rombongan peserta ritual membentuk barisan sepanjang sekitar 500 meter, dan mereka memadati sepanjang jalan yang dilewati. "’Tapa bisu mubeng beteng’ itu untuk memeringati tahun baru Islam 1 Muharam atau 1 Suro bagi masyarakat Jawa. Tujuannya mengajak masyarakat untuk bersyukur kepada Tuhan, memohon keselamatan dan kesejahteraan," kata kerabat Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Gunokadiningrat. Ia mengatakan secara resmi pihak Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat tidak melakukan ritual tersebut. Namun, kegiatan itu dilakukan para abdi dalem keprajan dan punokawan yang mengabdi di keraton. Seluruh abdi dalem mengenakan busana adat Jawa peranakan warna biru tua tanpa membawa keris dan tidak beralaskan kaki dengan membawa bendera atau panji. "Semua bendera atau panji merupakan lambang lima kabupaten dan kota di Provinsi DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta), serta panji abdi dalem juga dibawa. Di depan barisan pembawa panji ada pembawa bendera negara RI yakni Merah Putih," katanya.Sementara itu, seorang peserta ritual Sunardi (53) warga Berbah, Kabupaten Sleman, DIY mengatakan hampir setiap tahun dirinya mengikuti ritual "tapa bisu mubeng beteng", karena batin terasa tenang saat menjalani ritual ini."Saya selalu berjalan tiga kali putaran. Saya tidak merasa lelah karena sudah biasa," katanya, yang mengikuti ritual itu bersama beberapa orang.(jtm/kompas) img:dok.kompas, herwahyu.blogspot.com

 

"UGM-MAndiri Jazz 2009", bingkisan untuk UGM

Jogjatime.com-UGM bersama Bank Mandiri telah mencatat rekor baru dalam sebuah perhelatan akbar bertajuk UGM –Mandiri Jazz 2009 yang berhasil membuat terjual habisnya tiket pada H-8 sebelum hari pertunjukan yang diselenggarakan pada 15 Desember 2009 di Gedung Grha Sabha Pramana, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.   Javajazz dengan formasi Indra Lesmana (grand piano, keyboard, Dewa Budjana(guitar), Gilang Ramadhan (drums), Donny Sulendra (guitar) dan Ananda Mates (bass) beserta beberapa tokoh jazz nasional seperti Syahrani, Bertha, Ello menggebrak jogjakarta dalam konser tersebut.   Konser yang dipandu oleh Farhan dan Sarah Sechan semalam ini, merupakan “hadiah” bagi peminat jazz jogjakarta dan sekitarnya pada umumnya dan untuk masyarakat Universitas Gadjah Mada pada khususnya yang pada tanggal 19 Desember nanti merayakan hari jadinya yang ke 60.  

 

“Korban” pertama Biennale Jogja X-2009: Mobil tangki air Pemkot

Jogjatime.com - Biennale Jogja X-2009 tinggal sesaat lagi. Aktifitas seni rupa sebagai rangkaian dari Biennale ini mulai menggeliat.  Contohnya adalah kegiatan beberapa seniman baik berkelompok maupun individu  melukis pada mobil tanki air.

Statistics

Content View Hits : 12208

Currency Converter

Convert   into