Tapa Bisu Suro dan mubeng benteng
Jogjatime.com- Ribuan warga Yogyakarta dan sekitarnya melakukan ritual "tapa bisu mubeng beteng" Keraton Ngayogyakarto Hadiningrat menyambut malam pergantian tahun baru Jawa 1 Sura 1943 Jumat dini hari 18 Desember 2009.
Ritual mengelilingi tembok Kraton itu dilepas oleh GBPH Joyokusumo adik Sri Sultan Hamengkubuwono X tepat pada pukul 24.00 WIB. Prosesi tersebut dilakukan dengan jalan kaki tanpa aktifitas-aktifitas yang lain seperti merokok, makan, minum maupun berbicara.
Dilansir dari kompas regioanal, Rombongan peserta ritual membentuk barisan sepanjang sekitar 500 meter, dan mereka memadati sepanjang jalan yang dilewati. "’Tapa bisu mubeng beteng’ itu untuk memeringati tahun baru Islam 1 Muharam atau 1 Suro bagi masyarakat Jawa. Tujuannya mengajak masyarakat untuk bersyukur kepada Tuhan, memohon keselamatan dan kesejahteraan," kata kerabat Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Gunokadiningrat. Ia mengatakan secara resmi pihak Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat tidak melakukan ritual tersebut. Namun, kegiatan itu dilakukan para abdi dalem keprajan dan punokawan yang mengabdi di keraton.
Seluruh abdi dalem mengenakan busana adat Jawa peranakan warna biru tua tanpa membawa keris dan tidak beralaskan kaki dengan membawa bendera atau panji. "Semua bendera atau panji merupakan lambang lima kabupaten dan kota di Provinsi DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta), serta panji abdi dalem juga dibawa. Di depan barisan pembawa panji ada pembawa bendera negara RI yakni Merah Putih," katanya.Sementara itu, seorang peserta ritual Sunardi (53) warga Berbah, Kabupaten Sleman, DIY mengatakan hampir setiap tahun dirinya mengikuti ritual "tapa bisu mubeng beteng", karena batin terasa tenang saat menjalani ritual ini."Saya selalu berjalan tiga kali putaran. Saya tidak merasa lelah karena sudah biasa," katanya, yang mengikuti ritual itu bersama beberapa orang.(jtm/kompas)
img:dok.kompas, herwahyu.blogspot.com